Translate

Jumat, 14 Mei 2010

Desain rumah belajar Ibnu Abbas - Depok

Ayunan dengan jari-jari ayun "super"
       "Sudah dirobohkan ....," kata temanku memberi kabar kepadaku.
       "Hah !..," sahutku terkejut bukan kepalang.

       Sekitar 5 tahun yang lalu aku dengar bahwa rumah itu dirobohkan. Ya, dirobohkan !. Rasanya aku ingin menangis mendengarnya. Rumah itu memang kalau dilihat secara kasat mata adalah rumah yang sangat sederhana. Bahkan sangat-sangat sederhana. Rumah yang memang pantas untuk di robohkan di zaman yang mengagung-agungkan dunia ini.Maka dengan dirobohkannya rumah itu, terbesit ide untuk mengangkatnya kepada ajang eksplorasiku di blog ini.

       Kalau dilihat dari fisik desain rumah ini, maka akan malu seorang arsitek memamerkan karya yang demikian. Tapi untuk saya : tidak. Jiwa yang tersirat pada rumah inilah yang mendorong saya mengatakan tidak malu.

Maka kalau kita teliti lagi lebih dekat, maka terpancar darinya suatu kesederhanaan yang tertata rapi, sesuatu karya yang sarat pendidikan.Pendidikan ? Ya memang rumah itu kami juluki dengan "rumah belajar".Dengan konsep murni "fungsional" lah rumah itu lahir. Sampai-sampai kami sering beranekdot "kalau bisa begini kenapa harus begitu?".
Rumah saya desain atas permintaan seorang ustadz di bilangan Srengseng, Jakarta Selatan. Beliau diamanahi sebidang lahan yang sangat luas, dimana tanah tersebut dipinjamkan kepadanya untuk dimanfaatkan untuk kepentingan sosial khususnya untuk pendidikan.
Dengan konsep "fungsional" yang sangat kuat, maka rumah itu lahir.

       Awalnya, kami lihat lahan tersebut akan kami pergunakan untuk tempat anak-anak didik belajar.Lho kok lahan untuk belajar. Ya, karena pada waktu itu institusi pendidikan Rumah Belajar Ibnu Abbas (nama institusi pendidikan tersebut) tidak mempunyai dana untuk pengadaan gedung tempat belajar anak-anak didik. Dan kalau kita lihat lahan tersebut banyak ditumbuhi pepohonan. Sehingga para pendidik di Rumah Belajar Ibnu Abbas rencana akan mengajar anak-anak didik di alam bebas di bawah pepohonan. Karena mereka berfikir bahwa pendidikan adalah lebih penting dari pada sekedar harus mengadakan gedung belajar yang bernilai sekitar puluhan bahkan ratusan juta rupiah.Uang darimana ? Nah, anekdot di atas maka berlaku "kalau masih bisa belajar di alam bebas kenapa harus di gedung ?" . Lha, kalau hujan bagaimana? hmm...Alhamdulillah di dekat lahan tersebut terdapat masjid wakaf yang dapat kami pergunakan sewaktu-waktu kalau-kalau hujan turun.

        Setelah kami teliti lagi, ternyata di dalam lahan tersebut terdapat rumah kecil.Rumah sederhana yang dindingnya setinggi 1 meter terbuat dari tembok batu bata dan atasnya terbuat dari bahan triplek dan bambu anyaman. Rumah tersebut tidak ada yang tinggal di dalamnya. Kemudian timbullah ide. Ide yang sesuai dengan konsep Rumah Belajar Ibnu Abbas, yaitu memanfaatkan rumah tersebut untuk belajar.
Wal hasil, sang ustadz minta kepadaku untuk mulai memikirkan agar rumah tersebut bisa dimodifikasi sesuai konsep belajar Rumah Belajar Ibnu Abbas.

       Sebetulnya apa konsep belajar Rumah Belajar Ibnu Abbas itu? Yang jelas, konsep Islami dengan pemahaman salafush sholeh menjadi konsep utama. Di sini saya tidak membahas panjang lebar tentang konsep Islami nya yang tentu bukan tempatnya untuk dibahas di sini. Tetapi saya akan membahas dari sudut pandang arsitektur dan hal-hal yang lebih aplikatif untuk anak-anak didik dalam mengamalkan ilmu yang didapat. Tentunya dikaitkan dengan desain fisik rumah belajar. Ayo kita mulai !

rumah belajar dilihat dari atas "landasan luncur"
       Kalau kita akan menuju ke rumah belajar maka akan kita lewati sebelumnya arena bermain anak-anak. Lho kok ada arena bermain segala. Iya memang karena rumah belajar di peruntukan anak-anak seusia Sekolah Dasar. Arena bermain yang berada tepat di depan rumah belajar dan sekaligus halaman rumah belajar tidak seperti umumnya arena bermain anak-anak pada umumnya. Mungkin yang tergambar oleh Anda adalah ayunan, timbangan, besi-besi warna-warni mencolok yang menarik perhatian.Ya memang begitu pada umumnya permainan anak-anak di Taman Kanak-kanak atau di Sekolah Dasar pada umumnya. Lalu seperti apa permainan di Rumah Belajar Ibnu Abbas ?. Kalau kita lihat, permainan dalam arena bermain yang memang lebih dikhusus kan untuk anak laki-laki terbuat dari kayu.
anak rumah belajar siap meluncur "asyik"
Ada jembatan goyang yang tali-tali penggantungnya di gantung pada pohon-pohon yang  ditanam. Kemudian, ada jaring tali-tali yang bisa dipanjat menuju dahan-dahan pohon.Dahan-dahan pohon tersebut terdapat alas papan dimana anak-anak bisa duduk-duduk di atasnya. Alas papan ini juga sebagai "landasan luncur" suatu permainan "gantung luncur". Memang anak anak-anak dari atas sini bisa meluncur sampai mendarat kembali ke permukaan tanah dengan cara bergantung pada tali tersebut. Permainan gantung luncur ini tidak sekedar menimbulkan perasaan "asyik" pada anak-anak, tapi juga akan menimbulkan perasaan "berani" dan "percaya diri" bahwa ternyata "aku bisa".
"Ayo 'balapan' panjat tali !"
Otot-otot tubuhnya otomatis secara motorik akan terlatih. Terus kalau anak-anak jatuh sampai cedera bagaimana ? O jangan khawatir, di bawah permainan "gantung luncur" itu telah dipersiapkan jaring-jaring pengaman kalau anak didik jatuh. Hal ini sekaligus mengajarkan kepada anak-anak bahwa segala sesuatu dilakukan bukan dengan asal "nekad". Segala sesuatu haruslah direncanakan.Segala sesuatu itu harus dipikirkan akibat-akibatnya yang mungkin terjadi. Keamanan suatu hal yang beresiko haruslah diupayakan.Selanjutnya adalah tawakal.
Jaring pengaman permainan "gantung luncur"

Jembatan tali melatih keseimbangan anak rumah belajar
        O iya, dari landasan papan di atas pohon tadi juga dapat menyeberang ke salah satu pohon di arena bermain tersebut melalui jembatan tali. Pada jembatan tali inipun anak-anak didik dapat melatih keseimbangan tubuhnya.
Selain itu di arena bermain terdapat pagar rintangan dari kayu yang anak didik bisa melewatinya dengan memanjatnya. Kemudian ada pula tali yang di ikat pada suatu pohon yang anak-anak bisa bergantung yang akan membawa pengalaman "gravitasi" tersendiri.
Tidak lupa tentunya ayunan yang bisa di naiki anak-anak.Tapi masya Allah, kalau kita lihat lebih dekat lagi ayunan ini tidak seperti ayunan anak-anak pada umumnya.Ayunan ini tali ayunnya puanjaaaaang sekali ! Apa akibatnya kalau tali ayun panjang ? Jari-jari ayun ayunan ini tentu besar sekali. Bahkan kalau kita ayunkan ayunan ini bisa mencapai ketinggian atap suatu rumah ! Subhanallah! Nah, kalau dipikir-pikir kok bisa ya? Lalu tali ayun tersebut terikat dimana ? Apakah pihak Rumah Belajar membuat tiang yang sangat tinggi untuk bergantung tali ayunan? Oh ternyata tidak.Justru ide ini timbul karena pada lahan tersebut terdapat pohon flamboyan yang sangat besar dengan dahan yang tumbuh mendatar pada ketinggian sekitar 6 meter. Nah, pada dahan inilah tali ayunan digantungkan.

anak rumah belajar mencoba kemampuannya melompat
"Ali !...hati-hati gak bisa keluar lho !"
       Lalu, timbul pertanyaan, perlengkapan permainan itu terbuat dari kayu, apakah tidak mahal biaya pembuatannya? Tidak. Karena pembuatan arena bermain ini dibuat dengan kayu-kayu limbah suatu pabrik meubel yang kebetulan pemiliknya tinggal dekat sekitar lingkungan rumah belajar.Kayu-kayu tersebut disumbangkan kepada rumah belajar.Bahkan pemilik kayu-kayu bekas tersebut gembira, karena ternyata kayu-kayu bekasnya dapat memberi manfaat kepada dunia pendidikan. Bahkan lebih dari itu, mendidik anak-anak konsep "recycle, reduse dan reduce".Maka konsep efisiensi "kalau bisa pakai kayu bekas kenapa harus beli alat permainan dari besi yang harganya mahal?" bisa di tunjukkan..Hal tersebut menjadikan kurikulum yang terselubung yang akan tersampaikan pada anak-anak didik. Bukan ilmu dan teori ini dan itu saja yang diajarkan, tapi aplikasi bagaimana mengamalkan konsep "hemat" bisa terealisasikan.

Permainan ban bekas dilihat dari "landasan luncur"
       Satu lagi dari permainan anak-anak dengan konsep "hemat" adalah menggunakan ban-ban mobil bekas. Ban-ban itu ditanam di tanah dengan alur tertentu.Sehingga anak-anak bisa melompat dari satu ban ke ban lainnya untuk melatih otot-otot kakinya tanpa khawatir terjadi benturan keras karena sifat lunak ban yang terbuat dari karet.

Baik, kita beranjak ke rumah belajar itu sendiri ...eits ! nanti dulu, monggo diisi komentarnya. Siapa tahu ada yang tidak setuju bahwa ini dianggap suatu karya arsitektur.

(bersambung)




Semoga Bermanfaat.
Terima Kasih, Salam Sukses untuk Anda !

Rachmadi Triatmojo
Pendiri dan Arsitek sketsarumah.com
http://www.sketsarumah.com

Mau tahu Studionya ?
Silahkan klik http://www.sketsarumah.com/p/studio.html

Atau mau tahu langsung hasil-hasil karyanya ?
Silahkan klik http://www.sketsarumah.com/p/karya.html

18 komentar:

  1. Bismillah,
    Mohon maaf ini saya cuma test komen
    Silahkan beri komen ...

    BalasHapus
  2. Sebagai koreksi, yang benar menulisnya:

    "rumah belajar Ibnu Abbas",
    bukan
    Rumah Belajar "Ibnu Abbas"

    Dan ini juga antum yang disain.
    Kekuatan disain itu muncul dari kesederhanaan,
    kebersahajaan, dan ketulusan.
    Jazaakallahu khairan wa baraka fiik wa ahlik

    BalasHapus
  3. @ bang Zainal
    wa iyyaka ... wa fika barakallahu
    bener ... sudah ana rubah, tuh lihat di atas judulnya. Maklum sudah lama jadi lupa.
    O iya ana ada rencana (ini baru rencana, tidak tahu bisa terealisasi apa tidak) buat "buku ketrampilan ramah lingkungan" untuk anak-anak.
    Siapa tahu pondok-pondok, "keluarga-keluarga masa depan" butuh.
    Allahu a'lam

    BalasHapus
  4. Semoga Allah Subhaanahu wa ta'alaa memudahkan antum merealisir rencana tersebut.
    Tentu saja itu bukan pekerjaan mudah di zaman di mana kesederhanaan sudah menjadi barang mewah, dan pemborosan dianggap lumrah.
    Pertama-tama, tentu masyarakat perlu terus diberi pencerahan tentang apa itu "ramah lingkungan" dan urgensinya. Kedua,bentuk ketrampilan yang bagaimana yang diperlukan dan mengapa demikian.
    Jelas, mereka dan kita membutuhkan itu. Soal merasa atau tidak, itu hanya masalah waktu.
    Tuangkan dan sosialisasikan saja konsep antum lewat blog ini.
    Selamat berjuang !!!

    BalasHapus
  5. wahid edytio29 Mei 2010 17.50

    'rumah belajar IBNU ABBAS' gitu ya nulisnya...
    Baarakaallahu fiikuma.... wa ahlikuma.

    BalasHapus
  6. Keren, Pak! Sejak awal Bapak cerita waktu mampir ke kos saya nan kumuh dulu itu saya sudah langsung tertarik pengen lihat, tapi baru sempat kejadian sekarang. Hmmm, sayang sekali karya sekreatif itu harus dirobohkan karena ditelan materialisme. :(

    BalasHapus
  7. Kapan mau dilanjutin lagi ceritanya Mas?

    BalasHapus
  8. Sabar - sabar ...wah para pemirsa sudah gak sabar nih !

    BalasHapus
  9. lanjutin lagi dong ceritanya....

    ide sekolah alam (SA) dahulunya mirip dengan RBIA. SA juga masih mempertahankan beberapa hal terkait dengan alam, walaupun sudah ada beberapa yg pakai AC karena digunakan sebagai ruang komputer dan arsip.

    lalu bagaimana ceritanya materialisme menggerus RBIA?

    hmmm... sebenarnya saya melihat sesuatu yg lebih mengerikan lagi, suatu saat lokasi RBIA dan masjid wakaf itu akan berada di pinggir jalan tol, lalu kemanakah lagi suasana alam yang membuat kita nyaman untuk belajar dan beribadah?

    BalasHapus
  10. Bismillah,
    Rasanya saya perlu juga ikut bicara soal "rumah belajar IBNU ABBAS".
    Sekolah Alam (SA) sangat jauh dari mirip dengan RBIA. SA, bagaimanapun juga tetap saja sekolah yang disain bagunannya serta rancangan Landscape-nya "dibuat" sedemikian rupa sehingga terkesan alami. Ma'af, bagi saya SA tidak beda dengan "restoran Lembur Kuring", dia tetaplah sebuah restoran yang disain bangunan dan landscape-nya bernuansa "kampung", alami dalam pengertian yang artifisial.
    RBIA dibangun di atas dasar falsafah yang sangat berbeda.
    Dan kalau tidak salah Al Akh Rachmadi tidak pernah mengatakan bahwa RBIA telah digerus oleh materialisme.
    Yang benar adalah bangunan tempat RBIA dibongkar, karena pemilik tanahnya memerlukan untuk kepentingan yang lain, dan itu hak mereka (kami merasa berterima kasih kepada mereka yang telah meminjamkan tanahnya selama itu kepada kami dan berdoa semoga ALLAH memberikan ganjaran atas kebaikan mereka)
    Jadi, yang dibongkar atau dirobohkan itu bangunannya, tetapi bukan RBIA-nya.
    Tentu saja, siapa yang tidak bersedih hati kalau melihat sebuah disain monumental yang paling menyatu -yang pernah saya lihat- dengan filosofi belajar itu harus dirobohkan, yang sampai saat ini kami belum mampu untuk membangun yang serupa.
    Tetapi RBIA, adalah sebuah lembaga pendidikan yang dirancang untuk bisa diterapkan di dalam kondisi bagaimanapun. Ia tidak harus terikat dan hanya bisa hidup di lingkungan yang masih hijau saja, bahkan sekalipun tidak ada bangunan khusus, karena ia bisa diterapkan di rumah-rumah.
    Kalau Al Akh Rachmadi ketika itu bersama kami hidup di kawasan kumuh, tentu ia akan merancang bagunannya yang sesuai dengan kemampuan keuangan dan lingkungannya. Begitu pula, jika ada orang yang tinggal di pemukiman mewah kemudian ia akan membangun rumah belajar, tentu ia akan sesuaikan disain bangunan dengan lingkungannya.
    RBIA mendidik muridnya untuk bisa belajar di dalam kondisi bagaimanapun, tak perlu terikat harus di dalam lingkungan yang masih hijau. Sebab jika demikian, RBIA berarti menolak realitas perkembangan zaman.
    Semoga ALLAH memberkahi pengelola Blog ini.
    Dan kami menunggu sentuhan tangannya untuk memperbaiki lingkungan fisik RBIA sekarang.

    BalasHapus
  11. Abu Khaulah Zainal Abidin30 Agustus 2010 23.19

    Med, tolong ralat namanya, ya. Bukan Abu Kahulah, tapi Abu Khaulah. Ma'lum terlalu bersemangat komennya, sampai-sampai salah tulis.

    BalasHapus
  12. Bismillah ...

    Untuk Bang Zainal, afwan bang sampai sekarang belum ketemu cara hapusnya. Sudah di utak atik terus belum ketemu. Nanti ya...sabar.

    Sebetulnya juga gak terlalu masalah toh, antum sendiri sudah meralatnya. Dan sebagai catatan sejarah nyata "terlalu bersemangat komennya" antum.

    Barokallahu fiik !

    BalasHapus
  13. Bismillah ...

    Untuk Mas Andi,

    Jazaakallahu khoiron Mas Andi telah singgah di blog saya yang menjadi ajang eksplorasi saya sebagai seorang Arsitek muslim

    Semoga ini dapat menjalin persahabatan di dunia maya.

    O iya saya sudah berkunjung di http://pondokecil.wordpress.com/ Mas Andi.
    Wah-wah rupanya Mas Andi nih sudah lama ngeblognya ya ..sudah dari tahun 2004 !

    Barokallahu fiik !

    BalasHapus
  14. Abuya Zainal, jazakallah khairan sudah menanggapi tulisan saya, sebenarnya saya terus menantikan tulisan abuya yang terbaru di http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/ eh, ketemunya malah di blognya Om Rachmadi :)

    Saya tergelitik dengan istilah "Restoran", sepertinya hanya selera duniawi dan suasananya saja yang ditawarkan oleh SA :)

    btw, kesimpulan tentang "materialisme" saya dapatkan dari kalimat: "Rumah yang memang pantas untuk di robohkan di zaman yang mengagung-agungkan dunia ini."

    afwan kalau salah menyimpulkan, jazakallah khairan atas pelurusannya.

    Saya benar-benar salut, RBIA bahkan dapat hidup tanpa bangunan fisik, karena falsafahnya yang mengakar di hati mampu melampaui akhirat, bukan di sekadar di dunia.

    Om Rachmadi, tadinya tulisan saya sejak 2004 itu nyebar di beberapa blog, tapi saya kumpulkan di blog yg sekarang dengan fasilitas yang dimungkinkan oleh wordpress mengimpor semua tulisan saya dari blog lain.

    kalau dibaca dari awal, saya dapat mengetahui catatan perjalanan ini terasa jauh bedanya dahulu dengan sekarang. tentu saja seiring dengan "realitas perkembangan zaman" (pinjam istilah Abuya Zainal) yang saya alami dalam pemikiran, pemahaman dan praktik kehidupan saya.

    btw, saya memang selalu tertarik dengan arsitektur (barangkali sejalan dengan hasil tes bakat saya :p) walau ladang pencaharian saya saat ini bukan disitu, selain itu juga karena istri saya sarjana arsitektur yang kini menjadi ibu rumah tangga, kami sering diskusi tentang arsitektur.

    as you wished for, may Allah bless our friendship and guide us in His true path.

    Barakallahu fiik.

    BalasHapus
  15. Yassarallahu umuurokum, ndak sabar menunggu lanjutannya nih. Siap menyumbangkan ide!!

    BalasHapus
  16. Bismillah,
    untuk Ibnu Shalih ..jazaakallahu khoiron atas atensinya .... iya nih Insya Allah dalam waktu dekat saya lanjutkan ..lagi konsen 10 hari terakhir Romadhon nih ..dan mau mudik dulu.

    Barokallahu fiikum

    BalasHapus
  17. jadi ingat waktu mendisain sebuah sekolah SD di Palembang, para guru memiliki visi bagaimana membuat lingkungan sekitar lebih baik disekitarnya...

    pada saat itu sayangnya diriku masih awam dalam mendisain, belum sedalam ini.. ruang bermain yang telah ada merupakan ruang bermain dengan beton yang tidak nyaman ketika jatuh dan menderita lecet kepada anak-anaknya..

    beginilah ruang bermain seperti di atas seharusnya, aman, nyaman, dan tepat untuk mereka

    BalasHapus
  18. Terima kasih atas komen dan supportnya kepada Arsitek Kita dari Palembang bapak Leonaldy.

    Maju terus ARSITEK INDONESIA !

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Posting terkait

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

RUMAH JELAJAH 2

DESAIN RUMAH CIKARANG

DESAIN Rumah Purbalingga

DESAIN RUMAH KENANGAN, JAKARTA

DESAIN RUMAH PUTIH, JOGJA